Kebangkrutan

Pengadilan Malaysia: Utang Perjudian Tidak Memicu Kebangkrutan

Pengadilan Malaysia: Utang Perjudian Tidak Memicu Kebangkrutan

Pengadilan Tinggi Ipoh di Malaysia baru-baru ini menjatuhkan vonis penting bahwa utang yang muncul dari aktivitas perjudian tidak dapat digunakan sebagai dasar kebangkrutan. Langkah ini merujuk pada kesimpulan Mahkamah Persekutuan dari masalah hukum sebelumnya yang melibatkan Datuk Ting Ching Lee. Keputusan ini diambil berdasarkan argumen yang disampaikan oleh Hakim Moses Susayan dari Pengadilan Tinggi, yang mencabut status kebangkrutan Lee Fook Khuen, seorang debitur berusia 75 tahun.

Perkara ini diajukan oleh Resorts World Sentosa Pte Ltd setelah Lee gagal memenuhi kewajiban pembayaran utang sebesar S$5,930 juta, seperti yang diputuskan oleh Pengadilan Tinggi Singapura pada 2018. Lee memperoleh fasilitas kredit hingga S$10 juta untuk berjudi di Singapura namun tidak mampu melunasi utang tersebut.

Perjudian dan Hukum yang Berlaku di Malaysia

Dalam putusan tertulisnya, Hakim Moses menyatakan bahwa menurut peraturan hukum di Malaysia, utang yang terkait dengan perjudian dianggap sebagai utang kehormatan yang tidak mengharuskan pembayaran secara hukum. Meskipun sah di tempat asal, di Malaysia, ini dianggap melanggar kebijakan publik sesuai Undang-Undang Hukum Sipil 1956.

Perspektif Hukum Malaysia

Sesuai pasal 26 Undang-Undang Kontrak 1956, setiap perjanjian atau kontrak terkait perjudian atau taruhan dianggap tidak sah. Selain itu, pasal ini melarang upaya hukum untuk memungut uang atau barang yang diperoleh dari taruhan tersebut. Hakim menjelaskan bahwa pengadilan berwenang untuk menolak penegakan utang yang berasal dari transaksi ilegal atau konstitusional yang dianggap tidak sah, seperti kontrak perjudian, karena bertentangan dengan kebijakan publik.

Hakim Moses juga menyoroti bahwa pengadilan kebangkrutan memiliki hak untuk meninjau sifat dari utang, meskipun utang tersebut sudah diakui berdasarkan Undang-Undang Pelaksanaan Penilaian Timbal Balik. Pembatasan atas penegakan hutang dari perjudian mengesampingkan prosedur normal dan tidak mengizinkan penerapan hukum melalui kontrak yang di Malaysia dinyatakan tidak sah secara hukum.

Keputusan ini menunjukkan sikap tegas Malaysia terhadap utang dari perjudian, mengonfirmasi bahwa utang tersebut tidak dapat dijadikan alasan kebangkrutan maupun dilaksanakan secara hukum di negara ini.